Ini merupakan salah satu cerita/mitos tentang buluh perindu. Buluh Perindu berasal dari 2 kata, yaitu buluh dan perindu. Buluh menurut bahasa Bangka (mungkin ada juga daerah lain–) adalah sebutan untuk Bambu. Sebutan lainnya yaitu Blijit, bambu kecil biasanya dijadikan pagar hidup. Betung, sebutan untuk bambu yang berjenis besar dan keras. Sedangkan Perindu, berasal dari kata dasar Rindu (kangen) yang merupakan kata sifat. Bila ditambah awalan pe- akan berubah menjadi kata kerja. Jadi berarti pembuat rindu.
Bila digabungkan, maka Buluh Perindu berarti bambu pembuat rindu. Tetapi dalam tulisan ini tidak akan menjelaskan apa kegunaaan dari buluh perindu. Tulisan ini mengangkat tentang sebuah mitos yang ada di Bangka.
Di Bangka, ada sebuah bukit yang tinggi (katanya tertinggi) dan lebih sering disebut sebagai Gunung Maras. Keadaan alam di Bangka dahulunya masih terdiri atas hutan-hutan lebat nan alami, bahkan bisa disebut hutan rimba. Banyak misteri yang menyertai dimasing-masing hutan. Banyak larangan yang harus kita taati jika kita memasuki hutan ini.
Nah, di sekitaran Gunung Maras ini juga terdapat perbukitan. Salah satu bukit yang terkenal yaitu Bukit Tambun Tulang. Bukit Tambun Tulang jika diartikan adalah sebuah bukit yang berasal dari timbunan tulang-tulang. Konon katanya di bukit inilah terdapat Buluh Perindu. Namun belum satupun yang tau bagaimana bentuk atau benda yang namanya Buluh Perindu.
Cerita ini berawal dari dua orang anak laki-laki yang disuruh ibunya mencari kayu di hutan. Setelah lama mencari banyak sudah kayu yang didapatkan. Namun sang kakak terus mencari dan mengumpulkan kayu tersebut, sementara sang adik sudah mencegah kakaknya untuk berhenti. Sang kakak terus masuk kedalam hutan dan tiba-tiba dia mendengar sebuah suara yang sangat merdu. Sang adik terus saja mencegah kakaknya, namun selalu dibantah. Tanpa terasa sang kakak telah jauh masuk kedalam hutan. Dia selalu penasaran dan mencari dimana sumber bunyi tersebut berasal.
Setiap kali di berjalan, bunyi tersebut terasa dekat. Namun bila didekati tidak akan bertemu dengan sumber tersebut. Pencariannya terus berhari-hari di dalam hutan, dan selalu berputar-putar di dalam hutan yang lebat tersebut. Dan akhirnya tidak kuat lagi berjalan, latih dan akhirnya meninggal di dalam hutan tersebut.
Sang adik yang pulang lalu menjumpai ibunya di rumah.dan melaporkan kejadian yang dialaminya. Mereka menunggu kepulangan sang kakak hingga berhari-hari.sang adik juga tak kuasa menunggu dan memutuskan untuk mencari kakaknya masuk kedalam hutan. Dan apa yang terjadi, sang adik juga terkena buluh perindu dan mengalami hal yang serupa, meninggal didalam hutan.
Peristiwa ini selalu terjadi jika penduduk yang masuk ke dalam hutan dan terkena buluh perindu. Banyak penduduk yang meninggal didalam hutan tersebut. Rasa penasaran merekalah yang membunuh mereka sendiri. Dan akhirnya hutan tersebut karena banyak penduduk yang mati maka tulang-tulang mereka bertumpukan dan membentuk sebuah bukit, yang konon di sebut Bukit Tambun Tulang.
Wallahu’alam
Menurut salah-satu sumber, suara tersebut berasal dari rerumpunan bambu yang bergesek terkena angin dan menciptakan suara merdu mendayu-dayu sehingga membuat orang mendengarnya seperti terlena lalu membuat orang penasaran mencarinya.
Pesan Moral :
Jika memasuki hutan janganlah terlena dengan keadaan sekelilingnya, jangan membuat sesumbar dan selalu menjaga kelestarian alam.